Aku tersentak karena bunyi alarm hapeku
14.15
Harusnya 10 menit lagi kereta sampai stasiun kroya
Pemandangan di luar jendela seperti terseret cepat, mungkin karena ini kreta bisnis jadi lajunya cepat? Orang yang duduk di sebelahku sudah turun di cirebon, gadis muda yang cukup ramah. Kita naik bersama dari stasiun senen. Anehnya aku lupa menanyakan siapa namanya. Mungkin ini kebiasaan orang Indonesia? atau hanya kebiasaanku? Karena setiap kali aku bertemu dengan orang baru aku tak pernah mananyakan nama pada awal pertemuan, selalu di awali dari mana? mau kemana? sedang apa? dan pertanyaan yang umum saja, padahal sejak sekoah dasar dalam percakapan selalu di muai dengan perkenalan diri. Dan ternyata gadis muda itupun tidak pernah menanyakan namaku, tapi kami berbincang cukup lama, malah sampai aku mentraktirnya makan siang nasi goren yang kurasa lebih enak daripada di Kerinci.
Ada suara perempuan dari pengeras suara, yang memberitahu penumpang kalau kereta sembentar lagi sampai di stasiun kroya. Aku menurunkan koperku dari rak atas, dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Kereta mulai laju dengan pelan, dan aku menuju ke pintu keluar bersama beberapa penumpang lain, sebagian masih duduk di kursi masing-masing. Nostalgia, setelah lama aku tidak pulang, sepertinya stasiun mengalami banyak perbuhan bagus.
Setelah turun dari kereta aku bergegas menuju toilet, padahal di dalam kreta ada toilet tapi aku terlalu ragu untuk menggunakannya, mungkin karena buang air di tempat yang berjalan. Toiletnya terlihat rapih. Aku tidak langsung keluar, tapi menghubungi adiku dulu, memberitahunya aku sudah sampai stasiun. sambil menunggu aku mengabari beberapa teman kerjaku, kalau aku sudah sampai kampung halaman.
Walau aku sudah nyaman bekerja di sana, karena rekan kerjaku banyak orang baik, mungkin karena sama-sama dari perantauan. Aku pergi merantau sejak lulus SMA, bahkan aku berangkat sebelum aku mendapatkan Ijazahku. Itu sudah 20 tahun yang lalu, aku berangkat ke salah satu penghasil sawit terbesar di pulau Sumatera bersama dengan tetanggaku. Kami berangkat dua hari sebelum pembagian Ijazah, karena tetanggaku cutinya terbatas. Akupun tidak pamitan dengan teman sekolahku, karena sejujurnya tidak ada teman yang benar-benar akrab denganku. Walau aku sekolah di SMA tapi yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya sedikit, karena kebanyakan langsung mencari kerja. Disebut menacari kerja mungkin kurang tepat, karena di desa pekerjaan yang tersedia bagi lulusan SMA itu benar-benar tidak ada. Ada perkerjaan orang desa adalah petani, buruh tani, buruh bangunan, penderes, pedagang, dan bebrapa begawai bagi yang mempunyai pendidikan dan uang. Tentu kebanyakan orang itu pergi merantau, kalau yang punya modal biasanya pergi ke Malaysia dan Sinagpura bagi yang punya modal lebih akan mencoba ke Hongkong, Taiwan, Arab. Dan yang modalnya pas-pasan aka merantau ke Jakarta, Riau, Bangka atau Kalimantan. Sekarang katanya kalau punya modal lebih kebanyakan pergi ke Korea Selatan atau Jepang.
Hapeku berdering:
"Mas, dimana?"
"Aku masih di dalam, tunggu bentar"
"Ok"
Aku lupa tanya di mana posisi pastinya. Karena sudah lama tidak bertemu mungkin akan pangling.
"MAS"
Yang kulihat pemuda yang raut mukanya mengingatkanku saat aku bercermin namun dengan tubuh lebih tinggi dariku, itu pasti dia.
"Hei Di?"
"Iya mas, ini Adi"
"Pangling aku Di, jadi tinggi gini kamu sekarang,
pantes jadi ABRI nih"
"TNI mas, ABRI itu sebutan lama"
"Ya sama sajalah"
"iya Mas hehehehe"
"Bawaannya cuma ini mas?"
"Iya, ga bawa banyak barang, yang lain nyusul lewat paket"
" ya udah Mas, ayo pulang!"
Aku membonceng sepeda motor dengan memangku koper, dan memakai helm.
"Sekarang harus pakai helm Di?"
"Iya Mas, daerah sini sampai pertigaan habis kolam renang masuk kawasan tertib laluintas Mas"
"Ooooh, jadi rame ya kroya sekarang?"
"Iya semenjak Bupatinya mantan Jenderal Mas"
"Dan sekarang banyak pabrik juga Mas" tambah Adi
Jalanannya cukup ramai dengan sepeda motor, dan Adi bercerita tentang banyaknya kemajuan yang terjadi di Desa. Sampai pada akhirnya.
"Bapak udah ga sabar nungguin di rumah"
"Bapak masih sehat Di?
"Kadang-kadang kalau rematiknya kumat selalu marah-marah Mas"
aku mencoba mengalihkan pembicaraan, karena sedikit menyesal dengan topik yang tanyakan.
"Gimana tes seleksi TNI nya?"
"Syukur Alhamdulillah minggu depan Pantukhir di Semarang Mas"
Kemudian aku terdiam dan adi pun fokus dengan motornya.
Banyak perempatan yang ada lampu merahnya, seingatku dari rumah sampai Kroya hanya ada satu, itupun tidak berfungsi.
"Di? Bapak ga mau nikah lagi kenapa sebenarnya?"
"Ga tau Mas, padahal Lik Tinah pernah
nyomblangin sama temennya tiga kali loh mas"
"Nyomblangin apaan Di? bahasa anak gaul sekarang ada saja"
"Sejenis menjodohkan itu mas, mungkin Bapak
sudah teralu cinta sama Ibu dan sawah, makanya ga
mau nikah lagi"
"hmm"
Ya begitulah Bapak, dulu pas mau lahiran Adi saja Bapak lebih mementingkan panen dari pada nganter Ibu ke Puskesmas, malah Lik Dani yang nganter.